OJK Targetkan 164 Fintech Terdaftar Tahun 2018

[JAKARTA] Otoritas Jasa keuangan (OJK) menargetkan tahun ini terdapat 164 perusahaan keuangan berbasis teknologi (financial technology/fintech) yang terdaftar. Sementara itu, hingga saat ini baru 54 perusahaan fintech yang terdaftar di OJK.

Direktur Pengaturan Perizinan dan Pengawasan Fintech OJK Hendrikus Passagi mengatakan, dari 54 fintech yang terdaftar, sebanyak 53 perusahaan fintech konvensional dan satu fintech syariah. Kemudian, saat ini juga terdapat 34 perusahaan fintech yang sedang mengajukan pendaftaran ke OJK. "Ada potensi 164 perusahaan fintech yang terdaftar pada akhir tahun ini," kata Hendrikus di Gedung OJK, Jakarta, Senin (4/6).

Dia menambahkan, sebanyak 41 perusahaan fintechyang sudah mengajukan pendaftaran namun dikembalikan. Hal tersebut disebabkan karena dokumen yang diajukan belum lengkap dan tidak sesuai dengan Peraturan OJK (POJK) Nomor 77/2016. Sementara itu, sejumlah 35 perusahaan fintech saat ini sudah melakukan audiensi.

Hendrikus mengungkapkan, ada beberapa perusahaan fintech yang dokumen pendaftarannya dikembalikan dan tak diterima OJK. Hal ini karena perusahaan belum melengkapi persyaratan seperti anti pencucian uang (APU) dan pencegahan pendanaan teroris (PPT).

OJK juga menyiapkan payung hukum yang mewajibkan pelaku fintech melakukan uji kelayakan sebelum mendapat izin untuk beroperasi, yakni dengan regulatory sandbox. Melalui cara tersebut juga diharapkan bisa menekan peluang investasi bodong berbalut fintech.

Sementara itu, Deputi Komisioner OJK Institute Sukarela Batunanggar menjelaskan, akan ada serangkaian uji kelayakan yang harus dilakukan pelaku fintech sebelum dinyatakan lulus. "Oleh karena itu, OJK akan mendorong inovasi yang bertanggungjawab, responsible innovation," papar dia.

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso menambahkan, pihaknya tidak mengatur suku bunga pinjaman fintech. Namun, OJk hanya meminta perusahaan fintech agar transparan, sehingga akan terjadi kompetisi. "Fintech itu tidak bisa bersaing dengan Kredit Usaha Rakyat (KUR) bank, suku bunga fintech itu tinggi, risiko tinggi tapi tidak ditanyai izin. Kalau bank itu kan ditanya SIUP, jaminan," jelas Wimboh.[ID/M-6]

MILLENNIALS & DISRUPTION

Belakangan ini banyak perusahaan atau organisasi yang mulai menaruh perhatian terhadap generasi millennials. Siapa mereka dan mengapa banyak perusahaan sontak peduli dengan keberadaannya?

 

Anda bisa dengan mudah mencari definisi dan usianya. Mereka yang disebut generasi millennials biasanya lahir antara tahun 1985–1994. Bahkan, beberapa definisi menyebut batasnya sampai 2004. Silakan saja.

Generasi ini sangat terkoneksi dengan internet dan media sosial. Kurang suka dengan informasi yang bersifat satu arah dan percaya dengan iklan. Mereka lebih percaya pada pengalaman atau review dari teman-temannya. Namun sangat mengedepankan happiness dalam bekerja, gemar traveling lintas negara, dan gadget mindset.

Perusahaan yang masih mendefinisikan urusan manusianya dengan konsep human resource (HR) bakal kewalahan menghadapi generasi millennials. Sebaliknya, perusahaan yang memperlakukan karyawannya sebagai human capital akan menganggap generasi millennials sebagai aset dan penentu masa depan.

Maka, mereka harus dirawat dan diberi kebebasan berkreasi. Generasi ini tak suka kompetisi. Sukanya kolaborasi. Lalu, yang membuat banyak perusahaan takut adalah generasi ini bisa dengan enaknya bertanya, ”Dalam lima atau enam tahun lagi, apa posisi saya dan berapa gajinya?”

Sementara karyawan-karyawan lama begitu takut mengajukan pertanyaan semacam itu.
Anda, saya kira, bisa dengan mudah melengkapi sebagian ciri yang sudah saya lontarkan tadi. Referensinya ada di mana-mana.
 

Memukul Bisnis Konvensional

Namun, saya kira yang jauh lebih penting dari ciri-ciri biologis atau stereotipe lainnya adalah generasi ini mulai diakui keberadaannya karena disruption yang mereka lakukan dan dampaknya terhadap dunia bisnis. Baiklah, supaya kita mempunyai pemahaman yang sama, saya definisikan dulu arti disruption ini.

Sederhananya begini, disruption adalah perubahan untuk menghadirkan masa depan ke masa kini. Perubahan semacam itu biasanya mempunyai sekurang-kurangnya tiga ciri. Pertama, produk atau jasa yang dihasilkan perubahan ini harus lebih baik daripada produk/jasa sebelumnya. Anda boleh memberikan catatan bahwa pengertian ”lebih baik” ini bisa relatif, tetapi bisa juga absolut.

Kedua, harga dari produk/jasa hasil disruption ini harus lebih murah ketimbang produk/jasa sebelumnya. Kalau harganya lebih mahal, untuk apa mereka melakukan disrupsi? Ketiga, produk/jasa yang dihasilkan proses disrupsi juga harus lebih mudah diakses atau didapat para penggunanya. Bukan sebaliknya, malah lebih susah dijangkau.

Itulah tiga ciri dari proses disrupsi. Mengapa hasil karya generasi millennials tersebut menjadi begitu ditakuti para pengelola bisnis konvensional atau incumbent? Sebab, keberadaan produk/jasa buatan generasi millennials bakal memangkas bisnis-bisnis yang dikelola perusahaan-perusahaan konvensional seperti yang dialami industri layanan taksi atau perhotelan.
 

Efek Bola Salju

Ke depan, proses disrupsi tak akan berhenti sampai di situ. Saya dengar banyak pengelola TV swasta yang mulai cemas karena generasi millennials ini tak lagi menonton TV. Mereka lebih suka streaming atau menyaksikan tayangan-tayangan di YouTube. Mereka sebal dengan acara TV yang ”satu arah” dan tidak memberikan kesempatan bagi para millennials untuk berinteraksi atau memilih program.

Apa jadinya kalau acara-acara TV yang mereka tayangkan lebih banyak ditonton asisten rumah tangga, bukan oleh majikan, dan terutama anak-anaknya? Saya kira banyak pengiklan yang bakal mempertimbangkan lagi beriklan di media televisi.

Di bisnis perbankan, kehadiran perusahaan-perusahaan financial technology (fintech) yang digagas generasi millennials ini mulai mengancam banyak bank. Begitu pula di bisnis ritel. Saat ini bisnis online store terus meningkat dan disukai anak-anak muda, yang notabene merupakan pasar masa depan. Lebih jauh lagi, para disruptor itu dikelola kaum muda, the millennials. Dalam industri pariwisata, millennials travelers terus bertambah jumlahnya. Mereka lebih suka dilayani jasa-jasa perjalanan wisata yang berbasis aplikasi, bukan konvensional.

Itulah disruption yang terus terjadi di depan mata kita. Perubahan yang dipicu generasi millennials tersebut belum akan berhenti.
Mereka memang miskin pengalaman, tetapi tak punya rasa takut untuk menjelajahi masa depan yang unclear, unpredictable, dan uncertain.
Itu berbeda dengan generasi di atasnya yang kaya pengalaman, tapi lebih senang menjelajah rutin dan segala yang sudah klir dan certain.

Ia ibarat bola salju, masih akan terus bergulir dan kian lama kian besar. Kalau Anda menunggu sampai kapan atau menganggap perubahan seperti itu akan ada batasnya, salah besar. Sebab, perubahan semacam itu, kalau sudah bergulir, batasnya adalah langit alias tanpa batas. (*)

Oleh : (@Rhenald_Kasali)

Apa itu chatbot?

Social Feedmu pasti belakangan ini berisi dengan berita dari Google I/O 2016, kan? Bicara tentang kecerdasan buatan, dan secara khusus, bisa dibilang ‘ bot ‘. Tapi apakah kamu benar-benar tahu bot seperti apa dan bagaimana yang akan mempengaruhi kehidupan sehari-harimu ? Kamu perlu tahu, karena mungkin mereka akan memberi efek signifikan.

chatbot 

Bot adalah program software yang dirancang untuk mensimulasikan percakapan. Kamu mengirimnya permintaan dan mereka mengirim kembali respon spesifik berdasarkan query yang dikirim. Mereka telah terintegrasi ke dalam program pesan seperti Facebook Messenger dan Telegram melalui bot store untuk menyediakan pengguna dengan informasi dan konten. Misalnya, jika kamu ingin informasi cepat tentang kondisi cuaca saat ini, kamu dapat memulai percakapan dengan bot yang relevan dan akan menyediakan kamu dengan prakiraan cuaca. Di sinilah kita mendapatkan nama ‘chatbots’.

Apa yang bisa chatbot lakukan?

Bayangkan bahwa kamu memiliki sebuah restoran dan telah kehabisan es. Tapi restoran ini ramai dan suppliermu tidak bisa dihubungi. Menggunakan layanan pesan dengan fitur ChatBot, seperti Facebook Messenger atau Telegram, kamu bisa mengirim maksimal dua atau tiga pesan untuk meminta pengiriman cepat. Dengan menggunakan ChatBot, kamu tidak perlu lagi mencari supplier, menghubungi mereka, memeriksa ketersediaan dan pembayaran rincian : ini semua bisa diurus oleh bot yang melaksanakan tugas atas namamu.

Pertimbangkan berapa kali kamu mengakses mesin pencari Google untuk memperoleh informasi dan kemudian pertimbangkan berapa banyak lebih efisien ChatBot bisa membuat sistem ini. Jika Google bisa menggabungkan dua sistem ini bersama-sama itu akan menjadi alat yang ampuh.

 

chatbot

 

Bagaimana masa depan chatbot?

Ide-ide ini adalah apa yang saya harap CEO Google Sundar Pichai dan timnya bicarakan. Sebagai penyedia pencarian terbesar di dunia, Google bisa membawa teknologi bot kepada sesuatu yang baru. Telegram telah membuat langkah dalam hal ini, tentu, tapi tidak menawarkan setengah dari keseluruhan potonsei yang memiliki chatbot.

Facebook baru-baru ini mulai berinvestasi di bot dan mengklaim memiliki sejumlah pengembang yang bekerja pada mereka sekarang. Tapi pengalaman Google dan investasi dalam kecerdasan buatan yang membuat kita paling bersemangat.

Bahkan, kamu mungkin telah menggunakan salah satu layanan AI yang sudah ada : Google Now. Langkah berikutnya adalah bagi Google untuk menyajikan solusi untuk pengembang, yang memungkinkan mereka untuk menggunakan alat-alat pencarian Google di chatbots mereka sendiri.

Sumber: http://makantidurgadget.com

10 Kelebihan Chatbot dibandingkan Aplikasi Mobile

 

chatbot_2

Berdasarkan consumer research yang dilakukan oleh Myclever Agency, jika dibandingkan secara langsung dari semua parameter yang dijadikan tolak ukur penelitian, dapat disimpulkan bahwa chatbotmengungguli aplikasi mobile dari segala aspek.

 

Chatbot vs Apps 

1. Kemampuan Pelayanan Selama 24 jam

Salah satu keunggulan yang sangat tampak dari chatbot dibandingkan dengan aplikasi mobile, adalah kemampuan chatbot dalam memberikan pelayanan nonstop. Sebenarnya aplikasi mobile pun dapat melayani konsumen selama 24 jam namun ternyata berdasarkan riset, pelayanan yang diberikan chatbotjauh lebih memuaskan. Ketika aplikasi mobile¸ hanya dapat memberikan pelayanan sesuai dengan jam kerja saja, yakni antara pukul 9 pagi hingga 5 sore dikarenakan bergantung pada jasa costumer servicemanual, maka chatbot dapat melakukan pelayanan kapanpun, tanpa batasan jam, dan tanpa kenal lelah.

2. Respon yang Cepat terhadap setiap Pertanyaan

Kecepatan dalam merespon pertanyaan juga menjadi faktor yang mempengaruhi kepuasan konsumen terhadap suatu layanan. Sebagian besar mobile apps yang menggunakan tenaga admin manual memberikan respon dengan rentang waktu 5 hingga 7 menit, sementara chatbot dapat memberikan tanggapan atas pertanyaan konsumen hanya dengan hitungan detik.

3. Kenyamanan Penggunaan

Ketika konsumen suatu e-commerce ingin mencari sebuah produk katakanlah alat pancing, maka yang pertama dia akan lakukan adalah mengunjungi halaman utama web atau aplikasi e-commerce tersebut yang berisikan berbagai macam produk, yang isinya bukan hanya alat pancing saja tentunya, lalu ketika konsumen mencari dengan keyword “alat pancing”, barulah muncul berbagai jenis alat pancing dengan berbagai macam merk.

Ketika konsumen ingin mencari alat panjing menggunakan chatbot, yang dia lakukan cukup mengirimkan pesan singkat berisikan kata-kata “alat pancing”, maka bots dengan seketika akan memunculkan rekomendasi berbagai alat pancing.

Dari sini dapat kita rasakan jika user journey yang dimiliki oleh chatbot jauh lebih singkat dan praktis. Hal ini memberikan kenyamanan dan kemudahan tersendiri bagi konsumen untuk berbelanja suatu produk.

4. Kemudahan dalam Berinteraksi

Berbelanja online melalui chatbot terasa seperti berbelanja langsung di tokonya tanpa perlu pergi langsung kesana. Dikarenakan respon yang diberikan cepat, interaksi melalui chat seperti sedang berbincang dengan si penjual langsung.

5. Kemudahan dalam Menyampaikan Keluhan

Keluhan yang disampaikan melalui chat akan langsung ditanggapi oleh bots sehingga pengguna merasa nyaman dan adanya rasa keterbukaan.

Sementara aplikasi mobile masih menggunakan e-mail dalam menampung keluhan penggunanya, dimana respon terhadap keluhan tersebut akan memakan waktu cukup lama. Dan komunikasi melalui e-mail masih sangat terkesan formal dan kaku.

6. Respon yang Cepat terhadap Pertanyaan yang Kompleks

Terkadang, admin manual merasa malas dan enggan untuk membalas pertanyaan konsumen yang bertubi-tubi dan berulang-ulang. Disini chatbot di rancang untuk memberikan jawaban pasti meskipun pertanyaan diulang-ulang dan kompleks, sesuai dengan rules yang telah diberikan, if then/ than that. 

7. Pelayanan Konsumen yang Baik

Sebagai layanan costumer service selama 24 jam merupakan salah satu alasan mengapa konsumen lebih suka dan tertarik dengan layanan chatbot. Setiap pertanyaan mereka terjawab dengan cepat kapanpun tanpa mengenal jam kerja.

8. Penyelesaian Keluhan Konsumen

Keluhan konsumen yang disampaikan melalui messanger atau chat akan terkesan lebih personal daripada melalui email. Setiap keluhan konsumen yang disampaikan melalui chatbot paling tidak mendapatkan tanggapan langsung walaupun hanya sekedar kalimat “Terima kasih”. Namun ketika direspon dengan cepat maka konsumen akan lebih merasa dihargai.

 9. Jawaban yang Mendetail

Chatbot dapat mengingat suatu jawaban atas segala pertanyaan mendetail yang telah diantisipasi oleh suatu perusahaan atau bisnis. Semisal suatu perusahaan pengguna chatbot ingin menyediakan keterbukaan kepada konsumennya, mereka melatih chatbot untuk menjelaskan berbagai pertanyaan yang tidak dapat diingat dengan mudah oleh admin perusahaan.

10. Keramahan

Semua chatbot di dunia ini kebanyakan akan menyapa kita terlebih dahulu dengan ramahnya. “Hi” atau “Hello”. Dan selalu menawarkan bantuannya. “Ada yang bisa saya bantu?”

 

Dunia telah berubah, dan kembali menciptakan trennya. Sejak Steve Jobs meluncurkan apps marketplace diawal 2000an, era website telah berganti menjadi era aplikasi mobile. Sekarang, mungkin saatnya dunia akan berganti lagi, dari aplikasi mobile menjadi kegiatan berbasis percakapan dan chatbot.

Bisakah Chatbot Menggantikan Pekerjaan Manusia?

chatbot_1

Tangerang Selatan – Layanan teman virtual atau chatbot mulai banyak diadopsi di Indonesia, khususnya di divisi pelayanan pelanggan (customer service). Situs e-Commerce Salestock misalnya, menggunakan chatbot untuk melayani konsumennya. Selain itu ada kata.ai, yang juga menggunakan chatbot untuk menghubungkan brand dan konsumen melalui messanging platform terpopuler. Ada pula Bang Joni, chatbot yang berfungsi sebagai teman virtual sekaligus tempat pemesanan. Semua layanan di atas sepenuhnya bekerja tanpa manusia. Lalu apakah chatbot nantinya bakal menggantikan peran manusia di industri customer service? CEO Kata.ai, Irzan Raditya, menilai tidak menutup kemungkinan chatbot kelak menggantikan peran customer service karena ini merupakan solusi alternatif. Ia menyontohkan bahwa di Jepang ada perusahaan yang menggunakan chatbot dan mereka bisa menekan pengeluaran hingga 90 persen.

Diskusi panel mengenai chatbot di IESE 2017. Liputan6.com/Dewi Widya Ningrum "Selama itu positif buat perusahaan pasti bakal melihat ke arah sana," katanya di salah satu sesi workshop pada acara Indonesia E-Commerce and Summit Exhibition (IESE) 2017 di BSD, Tangerang Selatan, belum lama ini. Pada kesempatan yang sama, CEO Bang Joni, Diatche Harapan, berpendapat bahwa chatbot mungkin memang akan mengurangi jumlah karyawan, tetapi bukan berarti produktivitas jadi turun. Dulu petani masih bekerja secara manual, lalu setelah ada teknologi dan alat bantu jumlah petani memang jadi berkurang, tapi produktivitas bisa lebih meningkat. Co-founder & COO Salestock, Stanislaus Mahesworo menambahkan, sekarang sudah banyak perusahaan manufacturing yang menggunakan robot untuk menggantikan pekerjaan manusia. Pekerjaan copywriting juga sudah ada yang menggunakan bot. "Jadi sudah ke arah sana," imbuhnya.

Bagi industri customer service, manfaat terbesar yang didapatkan dari menggunakan chatbot adalah mereka tidak perlu menyewa, mengelola atau pun menambah tenaga kerja lagi seiring berkembangnya perusahaan. Aspek penghematan biaya menjadi bahan pertimbangannya. Chatbot dianggap sebagai solusi alternatif yang efektif, sehingga perusahaan dapat mengalokasikan karyawannya untuk melakukan skala prioritas lain. Dengan chatbot, perusahaan juga dapat memperluas operasi pelayanan pelanggan secara global dengan biaya rendah. Meski industri chatbot masih sangat baru di Indonesia, ke depannya chatbot diyakini akan menjadi sebuah tren yang memiliki pengaruh luas dalam kehidupan masyarakat.(LP6/DNA)